|
Forewords from EditorJournal Volume Vol 5 No 1 May 2012Sambutan Ketua Umum ASPENSI (Asosiasi Sarjana Pendidikan Sejarah Indonesia) di Bandung
Namun bukan itu titik tolak yang ingin saya tekankan dalam kata pengantar ini. Ketika saya mengunjungi Perpustakaan Tun Seri Lanang di Kampus UKM, saya juga mendapati banyak sekali koleksi dan penerbitan tentang Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Dari sana muncul satu gagasan dan keinginan untuk menerbitkan sebuah jurnal ilmiah yang akan menjadi wahana bagi para akademisi di Asia Tenggara, khususnya dari Indonesia dan Malaysia, untuk berbagi pengetahuan, hasil penelitian, dan gagasan orisinal tentang banyak hal, terutama yang berkaitan dengan masalah-masalah pendidikan sains sosial dan kemanusiaan. Jurnal SOSIOHUMANIKA yang pertama kali terbit pada bulan Mei 2008 ini, dengan demikian, merupakan hasil refleksi dari pengalaman hidup di atas. Tidak terasa juga bahwa sudah memasuki tahun kelima, yakni tahun 2012, jurnal ini bisa terus terbit dan menyediakan ruang bagi para akademisi, tidak hanya dari Indonesia dan Malaysia, tetapi juga dari negara Brunei Darussalam, Philippina, Australia, dan India untuk berbagi wawasan, pemikiran, dan hasil penelitian tentang negaranya masing-masing. Saya juga sengaja merancang penerbitan jurnal SOSIOHUMANIKA dengan menggunakan tiga bahasa, yakni Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Melayu; karena ketiga bahasa itulah yang kerap diguna-pakai paling tidak di negara Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Thailand Selatan, dan Philippina Selatan. Khusus mengenai Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu, sebenarnya keduanya berasal dari sumber yang sama; namun dalam perkembangan selanjutnya ternyata memiliki corak dan warna yang berbeda. Sudah menjadi rahasia umum sekarang ini bahwa kalau orang Indonesia berbicara dengan orang Malaysia, atau sebaliknya, maka banyak sekali kata, kalimat, dan istilah yang satu sama lain tidak faham atau beda makna. Kesalahfahaman ini, kalau dibiarkan dan tidak dicarikan solusinya, akan mendatangkan banyak kerugian daripada keuntungan. Sementara itu, usaha untuk menyeragamkan kembali dua bahasa yang berasal dari sumber yang sama, jelas tidak mungkin dan merupakan usaha yang sia-sia. Jurnal SOSIOHUMANIKA ini, dengan demikian, ingin menjadi wahana untuk saling memahami dan menghargai keragaman bahasa, budaya, sosial-politik, dan aspek-aspek kemanusiaan lainnya di kawasan Asia Tenggara. Dengan membiarkan para akademisi di kawasan ini menulis dalam bahasa nasionalnya masing-masing, paling tidak dalam Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Melayu, maka konsep "kesatuan dalam keragaman" akan menjadi kenyataan sosial yang kaya dan penuh warna. Lagi pula, keragaman itu harus dimaknai sebagai berkah, dan bukannya musibah. Sesungguhnya, memahami dan menguasai banyak bahasa - demikian menurut para ahli - adalah pertanda orang yang baik, cerdas, bijak, dan beradab. Jadi, selamat membaca artikel-artilel ilmiah dalam jurnal SOSIOHUMANIKA yang kaya dengan warna bahasa ini. Semoga ada manfaatnya. (Andi Suwirta, M.Hum.)
Andi Suwirta and his family, wearing the Indian style, at the Safari Garden in Bogor Regency, West Java, Indonesia.
Table of Contents
NINA
MAADAD,
AHMAD SUHERMAN,
MOHAMMAD PARVEZ & MOHD SHAKIR,
SITI HAJAR CHE MAN & RATNA ROSHIDA
ABD RAZAK,
ZEFFRY
ALKATIRI,
NOR
SHAFRIN BINTI AHMAD,
AHMAD & EKA SETYANINGSIH,
AHMAD
MUNAWAR ISMAIL & NORANIZAH YUSUF,
ANNIERAH
M. USOP,
HAJJAH
WAN AMINAH HAJI HASBULLAH & WAN FAIZAH BINTI WAN YUSOFF, |
|
Pada bulan Maret 2006, saya memiliki kenangan hidup
yang tidak mungkin terlupakan. Pada masa itu untuk pertama kalinya saya datang
ke Malaysia. Dari bandara KLIA (Kuala Lumpur International Airport), saya
dijemput oleh Mohd Zakir Naain, alumni IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu
Pendidikan) Bandung yang menjadi Guru Sejarah di Negeri Kelantan. Sepanjang
perjalanan dari bandara, melalui jalan tol, hingga ke kota Kuala Lumpur, saya
memiliki kesan bahwa negara tetangga ini sudah sangat maju dan modern, terutama
dalam pembangunan infrastrukturnya. Lebih-lebih ketika sampai di Kampus UM
(Universiti Malaya) dan UKM (Universiti Kebangsaan Malaysia), saya merasa bahwa
kondisi pendidikan tinggi di Indonesia masih jauh tertinggal bila dibandingkan
dengan di Malaysia.